UKM Merpati Putih IPB

Hening

Hening

“Argh…” kata itu keluar spontan disela malam yang penuh dengan rasa letih. Ku rebahkan badan dan diatas tempat tidur yang sudah cukup usang, per  kasur yang seharusnya membuat kasur itu empuk kini sudah mulai bermunculan kepermukaan sehingga aku perlu memposisikan tubuh sedemikian rupa hingga per-per tersebut tidak menusuk badan yang sangat teramat letih ini.

Pandangan ku kosong melihat sekeliling, kamar kecil yang sudah sesak dengan satu tempat tidur single bed dan lemari kecil empat pintu tempat buku dan pakaian ini tidak terasa sudah menjadi teman dua tahun terakhir. Dari kejauhan sudah tidak terdengar suara tetangga kamar, sepertinya mereka sudah asik dengan mimpi mereka. Dan memang, sekarang ini sudah lewat tengah malam. Ku sempatkan melihat kearah layar HP merk cina hasil penyelewengan uang beasiswa yang ku terima, dan pada sudut layar tersebut tertulis “00.35” dan lagi-lagi aku hanya berkata “Argh…”.

“apa-apaan ini, apa-apaan mereka itu..” ku pejamkan mata dan menarik nafas dalam disisa tenaga yang ku miliki untuk hari ini. Sisa dari tenaga yang sebagian dari mereka sudah terkonversi menjadi langkah utk berjalan dari kampus menuju ke kamar sempit ini. Sisa dari tenaga yang sudah dipaksa keluar untuk memikirkan penelitian yang rasanya tak pernah ada selesainya dan memikirkan tanggung jawab baru yang justru lebih menghabiskan tenaga (pikiran dan fisik) dibanding penelitian akhir.

Ku gulingkan badan ke sisi kanan kasur menghadap ke arah tembok, perlahan namun tegas terdengar suara per  dari dalam tempat tidur saling bersahutan seakan mereka berontak harus menahan beban badan ku yang sebenarnya terhitung kurus.

“kenapa dulu gue mau sih nerima tawaran ngejabat sih !! jadi BPH malah, aseem” tangan ku mengepal keras dan tangan kejang seperti siap melemparkan pukulan.

Kegiatan organisasi dengan skala se Bogor ini memang sangat menyita pikiran, masalah datang seperti dentuman BAM !! BAM !!  BAM !! BAM !!! tanpa henti. Kritikan datang dari segala arah, seperti inilah, itulah, beginilah, begitulah.

“gini salah, gitu salah. Heran. Kaya gini aja kagak beres-beres, yang gue perlu kerjain bukan ini aja” keluh ku dalam hati.

Belakangan ini memang masalah di organisasi yang satu ini terus datang, menuntut waktu dan fokus penuh untuk menyelesaikannya. Sedikit saja salah langkah, bisa jadi masalah. Sempat terbesit beberapa kali untuk rehat dan meninggalkan masalah itu sejenak untuk kembali memikirkan kewajiban sebagai mahasiswa tingkat akhir. Tapi entah tidak tau kenapa ada rasa tidak bisa untuk lepas dan rehat meskipun alasan sudah sangat teramat jelas.

“astagfirullah,..”

Kata tersebut muncul spontan sembari ku pejamkan mata dan menarik nafas halus dari kedua lubang hidung. Untuk sepersekian detik seperti ada perasaan halus mengalir memenuhi dada yang sebelumnya sesak, rasa hening yg beberapa hari ini terus menjaga jarak dari keseharian ku.

Ku lemaskan sekujur tubuh, nafas yang sebelumnya seperti tertahan sekarang menjadi lebih tenang dan perlahan. Dalam mata yang kini terpejam terbayang awal pengangkatan menjadi BPH, muncul beberapa bayangan pengurus lainnya yang waktu itu berseragam perguruan tanpa sabuk dan tersenyum bersama menyambut kepengurusan tiga tahun yang akan kami jalani.

“kenapa gue mau ya nerima tawaran ngejabat??”

Pertanyaan itu muncul lagi namun sekarang keluar dengan suara pelan dan halus dari bibir yang tidak terbuka sepenuhnya ketika mengucapkan.

Ku tarik kembali nafas dalam-dalam dgn niat membersihkan hati dan pikiran. Sesaat setelah nafas ku buang halus, muncul bayang-bayang banyak sekali orang berseragam latihan lengkap. Mereka anggota yang mempercayakan dirinya untuk dilatih dan dibina. Ya, itu mereka.

Disela-sela mereka muncul beberapa wajah yang sangat ku kenal. Itu mereka, orang-orang yang belakangan ini sangat sering ku temui. Entah kapan pertama kali kami saling mengenal, tapi jelas sekali teringat perjuangan kami bersama, melakukan hal gila dan kadang terlalu gila untuk dilihat publik. Dan pasti, sekarang merekapun tidak kalah terbebani gara-gara masalah menjengkelkan ini.

….

Ku perdalam lagi niat untuk membersihkan hati dan pikiran, dan kini rasa hening itu mulai menyebar dari dada ke sekujur tubuh. Ku pandangi satu persatu bayangan yang muncul dibenak ku malam itu.

Ya, ikatan yang sudah ku buat dengan merekalah yang membuat ku enggan untuk rehat dan membiarkan mereka menanggung masalah ini. Ikatan yang sudah terjalin tidak sampai separuh usia ku tapi rasanya ingin selalu ku miliki sampai akhir usia.

“gak mungkin gue mundur dan ninggalin kalian” ucapku dalam hati

Untuk beberapa saat tekad untuk berjuang ku muncul kembali, sampai ku bertanya

“tapi apa ini alesan gue buat berjuang?”

“gimana kalau kalian yang nyerah duluan?? Apa lagi alesan gw buat terus berjuang??”

“gimana kalau anggota yang gue perjuangin malah akhirnya ninggalin gue duluan??”

…..

…..

Pikiran ku tiba-tiba kembali mulai sesak dengan pertanyaan, nafas ku kembali terasa berat.

Ku tarik kembali nafas dalam namun kini terasa lebih berat dari sebelumnya. Rasa hening itu mulai menyusut seakan tertelan oleh pertanyaan-pertanyaan yang datang.

Ku letakan kedua telapak tangan menutupi wajah dan kedua mata yang masih terpejam. Lalu ku bertanya ke dalam hati

“apalagi alasan buat berjuang kalau begitu??”

“astagfirullah…”

Sesaat setelah itu jantung ku berdesir halus, terasa aliran darah  yg hilir mudik perlahan. Muncul suara dari dalam hati, samar namun tegas dan berkata

“bagaimana kalau Tuhan secara tidak langsung berkata

‘Aku titipkan organisasi ini ke kamu. Urus baik-baik ya, jangan tinggalkan mereka yg sudah menitipkan diri mereka utk dilatih dan dibimbing. Jangan tinggalkan mereka yg sudah berjuang bersama mu. Ku titipkan sampai waktu yang Ku tentukan’

Apa bisa kamu menolak?? Kamu jelas tidak pernah memintanya, tapi Tuhan jelas menitipkannya karena kamu mampu dan Dia telah berkehendak melalui takdir-Nya“

…..

..

.

Nafas ku tertahan, mata ku kini berair dan perlahan rasa hening itu muncul lagi. Kali ini hening yang terasa bercampur baur dengan dengan rasa pasrah. Perlahan ku tarik nafas panjang, kedua tangan tangan yang sebelumnya menutup wajah kini ku letakkan tepat diatas dada bagian kiri, diatas jantung. Ku rasakan detak jantung yang berdetak perlahan kemudian muncul rasa tenang yang luar biasa.

“tanggung jawab ini kagak pernah gue minta, meskipun gue minta kalo Tuhan enggak percaya ama gue pasti gakan dateng itu tanggung jawab”

“kalau udah gini, apalagi alesan gw buat mundur”

Diriku pun terus berkata dalam hati meyakinkan diri utk terus maju sampai saat yg ditentukan itu habis. Malam ini, hati telah berhasil mengalahkan pikiran yang terus bertanya dan mencari alasan untuk kalah. Mungkin sebaiknya saya harus lebih mengenal hati (Qolbu).

 

6 Juni 2014

-amIme-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *