BELAJAR SENI TUNGGAL DAN BEREGU DI MERPATI PUTIH IPB

Posted by Merpati Putih on 12 November 2015

PPS BETAKO MERPATI PUTIH IPB

BELAJAR SENI TUNGGAL DAN BEREGU DI MERPATI PUTIH IPB

Oleh : Andita Dwi Sefiani

Barisan manusia berbaju putih hitam terduduk di atas hamparan luas aspal kelabu. Setiap malam, alunan angin setia mengusik keheningan mereka. Tapi, tarian dedauan pohon kelapa tak mau kalah memperlihatkan ketenangannya. Berlomba mencari keseimbangan dengan bumi. Bintang-bintang serasa memancarkan energi dan bulan pun mengikutinya. Namun, suara gemuruh dari gedung seberang tak kenal lelah mengusik keseimbangan yang terasa. Membuat mereka terpaksa untuk mencari keseimbangan baru, ketenangan yang lebih kuat. Tempat ini memang sederhana, tapi tak pernah segan untuk kami singgahi. Tempat yang sangat bersejarah untuk UKM PPS Betako Merpati Putih ini disebut dengan pelataran Gymnasium. Tempat sederhana yang selalu dijadikan sebagai tempat latihan rutin selama saya berada di UKM ini. Merpati putih di IPB telah berdiri sejak tahun 1985 yang berarti sampai tahun 2015 ini keberadaannya telah mencapai 30 tahun.

Ketenarannya di IPB memang sudah tak diragukan lagi, tetapi tetap saja ada yang memandangnya secara sebelah mata. Memang tak ada paksaan untuk menyukai budaya asli Indonesia ini, tapi setidaknya hargailah budaya ini di negerinya sendiri. Terkadang ada yang menganggap Merpati Putih menggunakan ilmu mistik. Sebenarnya Merpati Putih menggunakan tenaga dalam asli manusia, dengan teknik olah napas. Dalam tulisan ini, saya akan lebih menjelaskan mengenai pelajaran fisik maupun moral yang telah diperoleh selama berlatih di Merpati Putih Kolat IPB. Menurut saya, pencak silat Merpati Putih bukan hanya mengajarkan seseorang untuk menggali kekuatan fisiknya tapi juga membantu orang itu untuk meningkatkan moralnya dan mengalahkan musuh terbesarnya, yaitu dirinya sendiri. Semua orang memiliki rasa takut, semua orang memiliki rasa khawatir, dan semua orang juga memiliki rasa lelah, rasa yang akan terus menguat saat otak dan hati kita ikut berkata bahwa kita tak mampu. Padahal semua rasa itu bisa saja tereduksi saat otak kita memiliki prasangka positif tentang tubuh ini. Prasangka baik itu bisa berupa rasa percaya kita pada diri sendiri, rasa percaya kita bahwa diri ini masih kuat, diri ini masih mampu dan akan terus bisa menjadi lebih kuat. Itulah pelajaran moral pertama yang saya pelajari saat memasuki UKM ini bahwa tubuh ini sesuai dengan prasangka sang pemilik tubuh, maka saya belajar untuk mengalahkan diri sendiri, mengalahkan semua prasangka negatif yang sering hadir.

Setelah bergabung dengan MP IPB sejak Desember 2012, pada tahun 2014 saya mulai menjuruskan latihan pada bidang yang saya pilih, yaitu seni tunggal. Awalnya saya hanya mencoba seni karena tidak diizinkan untuk mengikuti laga, tetapi ternyata berlatih seni itu cukup menyenangkan dan menantang. Berawal dari acara Duta Seni di Cabang Bogor, saya memulai latihan seni. Sekitar dua bulan setiap hari Sabtu/ Minggu kami dilatih untuk menghafal setiap gerakan seni tunggal. Bukan hal yang mudah untuk menghafal tiga bagian dari seni tunggal, yaitu tangan kosong, golok, dan toya, namun prosesnya cukup lancar waktu itu. Kami rutin melakukan latihan setiap minggunya sampai pada akhirnya kami harus memperlihatkan gerakan seni masing-masing. Sekedar mengevaluasi gerakan yang selama ini dipelajari. Perjalanan saya waktu itupun berujung cukup mengagetkan karena saya dinobatkan sebagai perserta terbaik. Kemungkinan hanya karena absen saya yang cukup penuh. Walaupun tak dipungkiri dalam otak saya sedikit terbersit bahwa sepertinya aku cocok untuk mendalami bidang ini. Akhirnya seni menjadi prioritas latihan saya.

Fleksibilitas saya yang jauh dari kata bagus pun menjadi tantangan terbesar yang harus terus diperbaiki dalam setiap latihan. Pencak silat Merpati Putih IPB memang tidak memiliki fokus di bidang seni. Ingin mengembangkan hal ini, namun masih tak ada ide harus berlatih pada siapa. Perjalananku di seni ini pun berlanjut pada bulan intensif yang diadakan oleh divisi pendidikan dan pelatihan. Pada bulan ini kami diizinkan untuk bertemu lagi dengan pelatih kami sewaktu di Cabang Bogor kemarin yang bernama Mas Indra. Saya, Ria, Arum, Ardhi, dan Ashaf bisa sedikit mempelajari hal-hal dasar dalam seni tunggal seperti kuda-kuda, fleksibilitas, latihan bentuk, dan lain-lain. Pertemuan yang cukup singkat ini hanya dilakukan selama sebulan. Ketekunan untuk melakukan hal-hal dasar yang ada dalam latihan ini lah yang sebenarnya bisa memantapkan gerakan seni kami. Namun apa daya, tanpa adanya pemantauan pelatih, kelalaian sudah menjadi hal pasti. Saya hanya bisa sekedar memantapkan gerakan seni seadanya. Hasilnya sudah bisa ditebak. Pada kejuaraan internal kolat yang diadakan sebagai ajang evaluasi dari latihan bulan intensif, gerakan yang saya tampilkan terbilang sangat kacau dan tak bisa mempraktekan rolling depan yang menjadi gerakan penutup pada sesi golok. Nilai kecil pun sudah menjadi barang pasti. Saya memang masih jauh dari kata cukup.

Walaupun dari kata ‘cukup’ saja masih jauh, saya tetap terus mencoba dan berlatih untuk memperbaiki gerakan seni tunggal ini. Sekedar mempelajari hal-hal detail dari video dari internet. Butuh sifat konsisten dan pantang menyerah untuk tetap bertahan dalam seni tunggal karena untuk mempertegas dan memperindah bentuk tendangan saja, saya membutuhkan waktu berminggu-minggu dengan catatan harus melakukannya setiap hari. Minimal 30 tendangan setiap kaki harus dilakukan setiap hari. Sisanya saya harus terus mengulang gerakan seni tunggal agar saat melakukannya tidak terkesan menghafal tapi sudah menjadi naluri dan terkesan sudah mengalir dalam tubuh. Berlatih seni tunggal adalah berlatih untuk mengalahkan diri sendiri, berlatih untuk melawan rasa malas, bosan, dan rasa tidak bisa. Sampai pada akhirnya, hasil latihan kami implementasikan di Kejuaraan Nasional IPB OPEN 2014. Walaupun hasilnya belum bisa menjadi juara, tapi telah banyak pelajaran penting mengenai latihan dan usaha yang terus tertanam sampai kejuaraan ini berlangsung.

Bulan November yang dipenuhi dengan kesibukan anak MP IPB sebagai panitia IPB OPEN sekaligus atlet IPB OPEN pun telah terlewati dengan cantik. Berakhir dengan manis dan mengharukan.

Lakukan saja semaksimal mungkin agar bagaimana pun hasilnya kamu tidak akan kecewa karena usahamu telah maksimal

Sebuah kalimat yang terus menjadi prinsip hidup saya karena sebenarnya saya tidak menyukai persaingan, saya hanya menyukai untuk melakukan apapun semaksimal mungkin, jika hasilnya membahagiakan, itulah bonus dari kemaksimalan. Perjalanan seni saya di MP IPB ini pun berlanjut. Bulan Februari awal, saya bersama dengan Rahmi dan Ka Goran membentuk kelompok seni beregu untuk mengikuti Kejuaraan Nasional Antar Perguruan Tinggi di UPN Veteran Yogyakarta pada pertengahan bulan Maret. Kenapa beregu? Karena kami hanya bisa mengirimkan satu tim dan tak mungkin dalam satu tim ada dua orang yang melakukan seni tunggal. Ya, seni tunggal diwakilkan oleh Ria dan saya haru belajar lagi dari awal mengenai seni beregu. Dari titik tak tahu apapun tentang semua gerakannya. Namun, entah kenapa keyakinan bisa tetap ada. Mungkin karena rasa penasaran yang timbul setelah kalah pada ajang Kejuaraan IPB OPEN. Isi latihan pada seni beregu ini tidak jauh dari bentuk tendangan, melatih power, stamina, dan menghafal gerakan. Tapi, yang menjadikannya berbeda adalah penyatuan rasa yang harus kami lakukan sebagai sebuah tim. Gerakan kami harus selaras agar terlihat indah. Menyatukan kami bertiga yang memiliki latar belakang yang berbeda adalah tantangan berat dalam seni beregu ini. Entah sudah berapa banyak tangis dan canda yang sudah terlewati.

Sebuah pengalaman yang tidak hanya memperkuat hubungan kita bertiga tapi juga memperkuat hati kami dalam memahami sesama. Kami memulai latihan secara otodidak dan menghafal gerakan dari video seni beregu putri yang tampil pada ajang Sea Games. Sampai akhir Februari kami terus melatih gerakan secara mandiri dan melatih stamina dengan ikut berlatih bersama atlet laga. Menuju 10-20 latihan terakhir kami, mulai banyak konflik yang terlihat. Diri kami mulai ragu akan kemampuan diri. Mulai merasa tak perlu melanjutkan karena gerakan kami tak kunjung terlihat meyakinkan. Diskusi panjang kami lakukan malam itu setelah usai latihan seni, jam 10 malam kami masih bergelut dengan kata dan perasaan diri sendiri. Sampai pada akhirnya kami sepakat. Sepakat untuk mengorbankan penelitian, sepakat untuk berlatih maksimal, dan sepakat untuk mengakhirinya sampai kejuaraan berakhir. Semangat kami pun diiringi dengan adanya pelatih yang bersedia meluangkan waktunya untuk memantau perkembangan kekompakan kami, namanya Mas Dodik. Seharusnya dia adalah seorang pelatih olah nafas dan laga tapi dengan semangatnya, Mas Dodik bersedia memberikan kami komando dan koreksi tentang kesamaan gerakan dan ketukan. Setiap selesai berlatih, kami melakukan nafas naluri dan nafas penyelarasan agar memperkuat aliran gerakan kami dan keselarasan gerakan kami sesuai dengan arahannya. Dia memang bukan seorang pelatih seni, fokusnya lebih baik pada laga dan pernapasan, tapi dia tetap bersedia memantau kami hingga kejuaraan berlangsung. Sampai pada akhirnya kami dapat tampil di kejuaraan dan mencoba menampilkan hasil yang terbaik. Kami belum mampu untuk memperoleh kemenangan, tapi saya rasa kami telah berhasil mengalahkan banyak sifat negatif dari dalam diri. Kemenangan yang sejatinya tak tampak tapi telah terasa.

Semua orang mungkin bisa merasakan lelahnya berolahraga, sakitnya mendapatkan cedera, keringat yang berlimpah ruah, dan rasanya memiliki wajah yang terasa sangat kotor setelah berolahraga, tetapi tidak semua orang bisa merasakan pengalaman indah mengalahkan semua rasa yang tidak kita suka setelah berolahraga. Rasa yang hanya bisa kamu rasakan jika kamu bergabung dengan Merpati Putih IPB secara totalitas. Terima kasih pula kepada Mba Paul yg telah rela meluangkan waktu dan tenaganya untuk jauh-jauh pulang pergi UI-IPB demi melatih kami. Bahkan kata terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk menyatakan rasa kebanggaan kami para atlet kepada para senior yg masih bersedia memantau dan memberi dukungan kepada kami.  Semoga keluarga MP IPB selalu terjaga selamanya.

Sebagai penutup tulisan ini, saya mendapatkan sebuah pernyataan dalam berita yang dikutip dari VoA. Pelatih dan para murid di Utah, Amerika Serikat, mengatakan bahwa Merpati Putih tidak hanya mengenai berlaga tetapi juga memberi orang kekuatan sejati. Terima kasih Merpati Putih IPB, sebuah keluarga yang telah banyak mengajarkan sekian banyak makna kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *