WHAT DOESN’T KILL YOU MAKE YOU STRONGER

Posted by Merpati Putih on 18 November 2015

WHAT DOESN’T KILL YOU MAKE YOU STRONGER

Oleh

Vidi Saputra

 

Apa yang tidak membunuhmu membuatmu menjadi lebih kuat. Manusia dilahirkan sebagai organisme sempurna dengan tingkat diferensiasi tertinggi dan potensi kemampuan tanpa batas. Seiring berjalannya waktu “Pengasuh” mengembangkan menyaring, dan membuang  kemampuan dan cara yang dianggap paling berhasil bagi umat manusia. Kemampuan lima indra terpilih berkembang pesat diikuti dengan jalan berpikir sesuai dengan pengaruh yang diajarkan. Indra penglihatan, penciuman, pendengaran, perasa, dan pengecap menjadi terminal pertama dalam menerima informasi yang akan di inervasikan menuju pusat pengolahan informasi, ganglion, sumsum tulang, hingga otak untuk menentukan reaksi yang akan dilancarakan. Namun, meskipun secara garis besar manusia terancang secara sosial dan potensi genetik dengan kesamaan lima indra tersebut, setiap indivudu tetap memiliki keunikan masing-masing. Setiap individu tumbuh dalam lingkungan yang pasti berbeda, dalam tabung reaksi dengan komposisi dan luas yang berbeda, dengan perlakuan uji yang berbeda, sehingga meskipun kita mencampurkan natrium dan clorida dengan berat jenis dan jumlah yang sama,  maka akan dihasilkan natrium clorida dengan karakteristik yang berbeda, atau mungkin bukan natrium clorida sama sekali. Sebagai contoh apakah ada yang bisa membuktikan bahwa merah yang saya lihat memiliki “warna” yang sama dengan merah yang anda lihat. Kenunikan-keunikan mengenai bagaimana kita mengartikan informasi melalui pancaindra menciptakan persepsi yang berbeda-beda dan unik bagi setiap individu. Asumsi yang tercipta pun akan sangat unik dan khas baik dalap wujud ataupun konsep hingga rasa dalam konteks perasaan. Artikel ini merupakan asumsi saya mengenai merpati putih yang saya pelajari dan perdalam dalam kurung waktu hampir empat tahun. Karena ini berupa asumsi yang lahir dari persepsi maka ulasan yang akan tertulis dibawah ini hanya sesuatu yang benar menurut saya. Saya tidak menganjurkan artikel ini dijadikan dasar untuk apapun dan tidak akan menjamin kebenaran apapun baik dipandang dalam keilmuan merpati putih ataupun keilmuan pengetahuan. Silahkan jadikan ini hanya sebagai paradigma lain yang anda temukan dalam memandang.

Apa yang tidak membunuhmu membuatmu menjadi lebih kuat. Adaptasi membedakan makhluk hidup dengan benda mati, walaupun hanya dalam selang waktu tertentu. Pada dasarnya kematian adalah sifat paling alami makhluk hidup karena benda mati tidak akan mengalami kematian.  Manusia memiliki kemampuan beradaptasi yang tertinggi di bumi. Meskipun rata-rata umur kita bukan merupakan rata-rata umur terpanjang namun kualitas hidup kita merupakan yang terbaik dibandingkan individu bumi lainnya. Sebenarnya saya sangat tergelitik untuk membahas maksud dan tujuan dari adapatasi itu sendiri, untuk apa sebuah benda mati bersusah payah hanya untuk dapat “melakukan” dan kemudian mati kembali. Namun itu akan membawa kita ke ranah yang lebih luas mulai dari konsep energi hingga religi. Untuk artikel ini akan membahas bagaimana merpati putih mem booster kemampuan adaptasi kita. Walaupun pada dasarnya semua kemampuan yang kita pelajari meningkatkan kemampuan kita ber adaptasi, apapun itu.

Apa yang tidak membunuhmu membuatmu menjadi lebih kuat. Mari memulai sudut pandang etiologi, Merpati Putih yang katanya merupakan akronim dari “mersudi partitising tindak pusakane titising hening”, yang memiliki arti “mencari sampai mendapat kebenaran dalam ketenangan” yang saya pikir merupakan dasar dari ilmu ini. Dasar merupakan pondasi kita dalam mencapai tujuan, dan dasar dari perguruan ini adalah frasa tersebut. “Mencari” karena tujuan yang dicapai tidak akan diberikan, diperlukan proses sebuah pencarian dimana tujuan sebenarnya tidak memiliki peta atau sebuah alur yang dapat kita ikuti, disini saya pikir kita benar-benar harus mencari bukan hanya sekedar tujuaanya tapi juga jalannya. “Sampai”, penggunaan kata sampai mengindikasikan bahwa tujuan merupakan suatu hal yang penting dan merupakan sebuah titik pencapaian inti yang di raih, beda hal jika menggunakan kata “hingga” dimana terasa tujuan tidak mengambil semua bentuk pencapaian, tujuan bukan segalanya melainkan ada sebuah proses yang terjadi di situ, proses juga merupakan suatu hal penting dimana tujuan akan didapat setelah mengalami proses tertentu, gampangnya “sampai” tujuan merupakan sesuatu yang peling penting dan menjadi fokus, sedangkan “hingga” proses dan tujuan sama-sama penting dan berjalan beriringan. “Mendapat” mengartikan sesuatu yang didapat bukan ditemukan, berarti dalam merpati putih tujuan itu di dapat atau di oper dari sesuatu, agak terdengar kontradiksi dengan kata “mencari” yang akab berakhir menemukan karena sesuatu yang dicari tujuanya untuk ditemukan. Saya mengartikannya bahwa sesuatu yang dicari itu memang akan ditemukan, namun belum tentu kita dapat, sesuatu atau seseorang harus mengoper atau memberikannya dulu kepada sang pencari untuk mendapatkannya. “Kebenaran”, bagi saya seorang muslim tidak ada sesuatu apapun didunia ini yang dapat menhakimi kebenaran, mereka hanya bisa menganggap benar dan menganggap salah, kebenaran hakiki hanya milik Allah SWT yang dituangkan dalam Al-quran, nabi, dan rasulnya. Manusia bahkan nabi dan rasul pun tidak mengetahui kebenaran, kebenaran adalah sesuatu yang gaib yang hanya dapat dicapai dengan percaya dan takut, beriman dan bertaqwa. “dalam” mengartikan berada diinti, ditengah-tengah, jauh di pusat sesuatu. “Ketenangan”, bagi saya ini berarti fokus pada satu hal dengan men-nonaktifikan hal lainnya, satu hal dapat merupakan kerumunan hal-hal yang disatukan dan hal lainnya dapat berarti hanya satu hal. Dengan tenang kita dapat dengan penuh bertindak, berfikir, ber-rasa sesuai kehendak otak maupun alami yang kita tujukan. Dari asumsi tersebut lah saya pikir menjadi dasar dari sang penuntut ilmu merpati putih menemukan tujuan yang ingin disampaikan dan diajarkan oleh sang guru. Sesuatu yang sangat berguna dan dianggap berhasil oleh sang guru dalam proses adaptasinya di dunia ini.

Apa yang tidak membunuhmu membuatmu menjadi lebih kuat. Merpati putih memilih berdiri sebagai perguruan beladiri dimana paham dan tujuannya disampaikan dalam ilmu beladiri tangan kosong dan pernafasan. Jujur saya saya minim pengetahuan tentang bagaimana bentuk beladiri pencak silat diperguruan lainnya, namun saya rasa tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok pada gerak tunggal kecuali pada bentuk rangkaian gerak atau jurus. Saya sendiri kurang mengerti filosofis konsep dari setiap gerakan jurus merpati putih, saya lebih melihat kegunaan praktis dari setiap gerakannya. Di merpati putih pun tidak ada bnetuk kembangan khusus yang dipatok pada setiap anggota, kembangan lebih berarti bergerak secara bebas dan senyaman mungkin sembari mempersiapkan diri dalam melancarkan jurus dan mengatur nafas.  Jadi saya simpulkan disini bahwa olah raga bentuk beladiri merpati putih yang saya pelajari selama empat tahun ini di kampus murni sebagai bentuk beladiri yang praktis. Tentu saja ada nilai-nilai yang tertanam di dalam setiap latihan beladiri, walaupun masih secara umum yaitu beladiri pencak silat. Nilai nilai kesatria, gigih, pentang menyerah, disiplin, konsistetn, berani, rendah hati, sabar, dan yang paling terlihat bagi saya terasa dan terlihat dari orang-orang yang memilih belajar bela diri pencak silat daripada beladiri lainnya adalah sifat sangat keras kepala dan gigih pada nilai-nilai inti yang dianggap benar namun tetap lues dan fleksible pada kehidupan sehari-hari.  Dibandingkan dalam beladiri tangan kosong, olah nafas merpati putih lebih banyak menghadirkan konsep-konsep tersendiri yang terpetakan dipikiran saya. Meskipun perlu saya sampaikan sebelumnya saya belum pernah merasakan dan melakukan olah nafas lain di perguruan lain ataupun bela diri lain. Bagi saya olah nafas merpati putih adalah satu hal yang paling mewakili judul artikel ini, olah nafas merpati putih jua lah yang menyorotkan mata senter ke tujuan perguruan. Kembali ke konsep adaptasi, tujuan dari adaptasi adalah bertahan untuk tetap hidup. Bagi saya masalah digambarkan bagai sebuah racun dalam syringe yang disuntikan perlahan-lahan ke tubuh manusia, masalah datang bertahap dan perlahan-lahan dan kita memiliki rentang waktu untuk menemukan solusi memecahkannya. Dalam kurang waktu tersebut bila tubuh berhasil megenali antigen racun yang tepat dan menciptakan antibodi yang pas sebagai respon imun untuk menggumpalkan racun-racun tersebut maka masalah teratasi, bila tidak bisa perlahan-lahan tubuh akan teracuni dan mati.  Bila kita selamat dan bertahan hidup tubuh kita telah memilki memori bentuk antibodi yang tepat untuk racun tersebut sehingga bila kejadian yang sama terulang, kita memiliki cara yang efektif dan efesien dalam melawan racun tersebut, tubuh kita beradaptasi. Semakin dekat kita dengan kematian, semakin kuat dan gencar respon homoestatis tubuh untuk mempertahankan keseimbangan. Dalam olah nafas merpati putih, kita secara sadar mencoba membunuh diri kita. Kita menahan nafas membuat tubuh miskin pasokan oksigen dan kita mengkontraksikan otot, memaksa pembakaran energi yang membutuhkan oksigen. Dalam keadaan tersebut alarm ditubuh kita segera menyala dan memberikan sinyal bahaya yang mengindikasikan bila keadaan ini terus berlanjut maka bencana akan terjadi. Secara tidak sadar saat kita mengolah nafas merpati putih peredaran darah kita akan mengalir lebih cepat, mencari pasokan-pasokan oksigen yang tersisa agar sampai ke target sel lebih cepat. Muka kita akan memerah kareana pembulu darah berdilatasi dan terlukis dibawah kulit. Otak kita memberi sinyal yang sangat kuat untuk bernafas membuat perasaan ingin menarik nafas yang begitu menderu. tangan kita mulai bergetar karena syaraf-syaraf yang sangat sensitif akan kekurangan energi akan mulai bekerja kurang terkontrol. Timbul rasa ingin muntah karena keadaan darah sudah begitu sangat asam dan kaya karbondioksida. Ketika olah nafas berakhir dan pasokan oksigen kembali mengalir, perlahan-lahan tubuh kembali pada keadaan seimbang, kita telah beradaptasi dan olah nafas berikutnya akan terasa lebih ringan. Kegiatan olah nafas ini dilakukan secara rutin dan terus menerus hingga tersimpan dalam memori setiap ganglion di estrimitas dan organ tubuh kita tanpa harus disalurkan jauh ke otak maupun medulla spinalis. Jika kita melakukan teknik olah nafas secara rutin dengan teknik yang benar tubuh kita akan terbiasa pada mekanisme pertahanan melawan kematian dan berada pada momen siaga. Saat dalam bahaya atau saat dibutuhkan tubuh kita dapat secara spontan melakukan respon homoestatis tersebut, bedanya kali ini dengan pasokan oksigen yang belimpah. Oksigen yang berlimpah mengalir di pembulu darah yang telah berdilatasi dan dipercepat sehingga sampai ke sel tujuan dengan cepat, otot kita telah terbiasa memanfaatkan oksigen seminimal mungkin dan seefesien mungkin sehinggan pemakai oksigen dapat maksimal dengan energi yang dihasilkan maksimal pula, alhasil terciptalah kontraksi otot dengan energi yang besar sesuai kebutuhannya seperti berlari, melompat, memukul, hingga bertahan. Hal serupa tidak terjadi hanya pada sel otot saja, sel-sel lain pun bekerja dengan mekanisme yang sama tergantung pada fokus kita, sel-sel saraf pada mata dan otak setelah terbiasa dengan mekanisme ini maka akan berfungsi dengan lebih maksimal dan efesien, dan mungkin kita akan mendapatkan pandangan yang lebih jernih dan tajam, begitupun dengan sel-sel pada mekanisme pendengaran baik pada organ maupun saraf, akan tercipta pendengaran yang lebih jernih dan tajam, dan potensi seperti ini dapat berkembang hingga ke tingkat yang luar biasa meskipun masih memiliki batasan tentunya, batasan yang tercipta demi mempertahankan keseimbangan. Dalam lain hal ketika olah nafas sudah sampai pada tahap yang lebih tinggi, dimana tubuh kita telah maksimal dalam memamfaatkan oksigen namun kekuatan kontraksi masih membutuhkan oksigen, tubuh akan membunyikan alarm yang sangat keras dan berusaha mencari apa yang masih bisa digunakan untuk bertahan hidup. Tubuh kembali membuka gudang rongsok lama didalam diri kita dan menemukan sebuah alat yang sudah sangat usang yang lama tidak digunakan oleh manusia. Alat yang dahulu dianggap tidak efektif dalam perkembangan adaptasi manusia bada zaman ini. Semua manusia memiliki alat ini, sebagian terlahir dengan memegangnya, sebagian lain terlahir dengan menyimpannya, sebagian tumbuh dengan membuangnya sebagian lain tumbuh dengan mencarinya dan menggunakannya. Dalam merpati putih alat tersebut disebut getaran, naluri, dalam pengetahuan lain yang saya pelajari alat tersebut disebut intuisi, sebagian orang menyebutnya indra keenam, indra yang terlupakan. Menurut saya, pada dasarnya kita tidak mempunyai reseptor khusus indrakeenam di otak. oleh karena itu rasa ataupun gambaran yang terbentukan dari indrakeenam bila kita berusaha mengartikannya akan terbentuk melalui jalur indra-indra lainnya seperti gambaran penglihatan, suara pendengaran, rasa perasa, rasa pengecap, dan bau penciuman. Saya sendiri tidak berani menjamin ataupun mengklaim pernah merasakan getaran, karena semua masih dalam tingkat yang abstrak. Ini seperti paradoks apakah rasa getaran datang dari sumber ataukah kita yang mencoba membuta rasa pada sumber. Akan lebih mudah untuk tidak dipikirkan karena pada hakikatnya saya percaya tidak ada reseptor otak yang tepat untuk indra ini, maka tidak ada rasa yang tepat. Semua hanya diartikan. Kembali ke pembahasan olah nafas, Hal-hal tersebut yang akan terjadi jika kita melakukan olah nafas. Sebenarnya saya percaya dalam momen apapun ketika kita lebih dekat dengan kematian makan akan membuat indra-indra di tubuh kita lebih sensitif dan tubuh akan berkerja lebih efesien dan efektif, dan olah nafas merpati putih adalah salah satu metode yang mungkin dan realistis melatih keadaan tersebut. Ketenangan diperlukan agar kita dapat fokus pada nia dan perlahan merasakan apa yang terjadi pada tubuh kita sehingga akan lebih mudah menyimpan memori keadaan tersebut. Kali ini saya tidak berbicara hanya dari konteks energi dan mekanisme kerja tubuh tanpa dipengaruhi energi lain di alam ataupun hal-hal yang berbentuk energi tidak berwujud seperti cakra, vivaxis, dan meridian.

Kurang lebih seperti itulah pemahaman saya berdasarkan persepsi-persepsi yang saya dapat selamat belajar beladiri Merpati putih baik saat latihan maupun di luar latihan. Saya yakin segala hal yang saya latih dan alami turut membentuk pribadi saya seperti sekarang ini. Namun kembali lagi penulis hanyalah manusia biasa sama seperti pembaca. Penulis juga terlalu malas untuk mencari literatur yang sahih demi kenyamanan membaca. Penulis menjamin seratus persen bahwa semua ini hanya asumsi, sesuatu yang dianggap benar oleh penulis. Dan ada satu hal yang ingin ditekankan di akhir artikel ini.” Apa yang tidak membunuhmu membuatmu menjadi lebih kuat” selalu di ulang karena adaptasi bukan merupakan proses sekali seumur hidup dan berlangsung cepat, ini merupakan sebuah pengulangan yang konsisten dan berlangsung sangat lama. Terimakasih untuk mebaca sampai akhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *