MERPATI PUTIH, TERBANGLAH BERSAMA SELAMANYA

Posted by Merpati Putih on 24 November 2015

MERPATI PUTIH, TERBANGLAH BERSAMA SELAMANYA

Oleh

Putri Setya Maharani

 

Sang Raja Siang menunjukkan kekuasannya, teriknya serasa membakar tubuh mungilku saat pulang sekolah. Namaku Amel, saat ini aku sedang menimba ilmu di SMA Kasih Ibu Bogor kelas XII. Aku memiliki dua malaikat penjaga yaitu ayah dan ibuku. Aku juga memiliki sepasang adik kembar cowok, aku sering menjuluki mereka upin dan ipin karena mereka sangat mirip dan lucu.

“Assalamualaikum.” aku mengucapkan salam dan masuk rumah.

“Waalaikumsalam”, kedua adikku menjawab dengan serempak. Mereka sedang main di depan TV sepulang sekolah. Mereka sekolah di yayasan yang sama denganku kelas V.

“Mana ibu?? Apakah sudah pulang???”

“Belum kak, mungkin ibu masih di rumah ibu Tuti”, Upin memberitahu. Bu Tuti adalah pemilik konveksi dimana ibuku bekerja.

“kakak, Ipin laper. Di meja hanya ada nasi, nggak ada lauknya”, rengek Ipin.

“ ya deh, kakak buatin telor dadar ya.”

“ Yee. Makasih kak”, mereka berteriak kegirangan.

Sebenarnya, badanku terasa tak sanggup lagi untuk berjalan, aku merasa sangat lelah. Tapi, apa boleh buat, demi adikku tercinta. Setelah ganti baju dan sholat, aku langsung masak telur dadar. Saat menyalakan kompor, entah kenapa kepalaku pusing, dadaku sesak, tanganku lemah. Semuanya mendadak gelap, tak ada setitk cahaya menyinari, tak ada yang bisa kurasa, selain kesunyian dalam diri.

♣♣♣

 

Tiba-tiba suara yang sangat merdu memanggil namaku. Suara yang selalu aku rindukan, suara yang selalu ingin ku dengar. Suara kedua malaikat penjagaku.

“Amel. . .”, kedua orang tuaku menyadarkanku dari mimpi gelapku. Aku terbangun di tempat yang sudah tak asing lagi bagiku, rumah sakit.

“Ayah, Ibu” panggilku dengan suara lirih.

“Amel, kamu baik-baik saja sayang??”, tanya ibuku dengan lembut.

“Aku nggak papa kok bu, aku senang melhat ayah dan ibu bersama disini. Andai saja aku bisa melihat ayah dan ibu bersama terus, aku rela menerima sakit ini.”

“Ssttt”, ayah mendiamkanku. “kamu jangan bilang seperti itu, meskipun ayah dan ibu sekarang berpisah, kami tetap sayang sama kamu”

Ibu dan ayahku sudah berpisah sejak aku masih SMP, sampai saat ini aku masih belum tahu kenapa mereka bercerai. Ayahku seorang satpam dan ibuku seorang penjahit. Aku mulai sakit sesaat sebelum mereka bercerai. Aku divonis dokter menderita kelainan jantung. Jantungku tidak berfungsi dengan baik. Ibu selalu mewanti-wanti agar aku tidak terlalu lelah, aku tidak boleh pegi kemanapun kecuali sekolah, aku dilarang ikut organisasi dan ekskul di sekolah. Padahal, aku ingin sekali menjadi atlet lari, seperti ayahku dulu saat muda.

♣♣♣

 

Setelah satu hari dirawat, aku langsung dibawa pulang. Kali ini, ayahku ikut mengantar sampai rumah, biasanya ibu melarangnya. Sampai dirumah, aku langsung ke kamar untuk istirahat ditemani kedua adikku.

Suara vase bunga pecah.

Aku terkejut, aku bersegera menuju ruang tamu. Ayah dan ibuku bertengkar lagi. Kali ini lebih parah. Ibuku membanting vas bunga.

“Kamu gila?? Kamu nggak sadar, anakmu lagi sakit, tapi kamu malah menyuruhnya ikut bela diri??/” Ibuku sangat marah.

“Bela diri ini bukan bela diri seperti biasa. Ini Merpati Putih, bela diri ini memiliki keilmuan khusus untuk pengobatan. Aku tahu silat ini saat pelatihan satpam.”

“ Apa?? Kamu samakan anakmu dengan satpam. Aku nggak akan mengijinkannya ikut apapun, apalagi silat.”, ibuku menangis, tapi ayah tetap bersikeras untuk memasukkan aku ke perguruan silat.

“Merpati Putih itu beda dengan yang lain. Silat ini tidak akan membuat anak kita lebih parah. Aku sudah mengundang pelatihku untuk datang kesini, untuk mengajaknya latihan.”

“Wahh. Aku tak paham lagi denganmu. Apa kamu tidak puas dengan pengobatan alternatif dulu yang malah membuat penyakit Amel sering kambuh.”

Oh jadi itu, yang membuat ibu sakit hati dengan ayah. Sampai saat ini, ibu masih belum bisa memaafkan ayah. Ayah pasti merasa sangat bersalah sehingga kali ini dia benar-benar ingin aku ikut latihan MP. Maafkan aku ayah, aku tak bisa berbuat apapun tanpa seijin ibu, ayah harus bisa meluluhkan hati ibu. Semangat ayah. .’ pikirku dalam hati.

Tiba-tiba, seseorang datang. Ayah memperkenalkannya pada ibu. Dialah pelatih yang ayah bilang. Ku kira dia adalah orang tua seumuran ayah, ternyata dia masih muda, namanya Nurul Yaman alumni IPB yang memang sudah lama berlatih silat MP. Suaranya begitu lembut, dia meyakinkan ibu untuk mengijinkanku berlatih MP.

“Ibu, Merpati Putih itu bukan bela diri yang seperti ibu kira. MP itu mengolah energi tubuh yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT. Sesungguhnya dalam tubuh setiap manusia itu terdapat energi yang sangat besar. Jika ibu yakin, semuanya akan baik-baik saja.”

Dia bicara sangat bersemangat. Entah bagaimana cara dia menyampaikannya, itu mebuat hati ibu luluh dan mengijinkanku untuk latihan. Dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sangat bahagia. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk hubungan ayah dan ibu. Selain itu juga, Mas Yaman juga baik dan ganteng ☺ ☺ . Setelah itu, ibu memanggilku untuk keluar dan mengenalkanku. Aku masuk dengan wajah pucat dan lesu, meskipun dalam hatiku sangat bahagia. Kami pun berkenalan.

“ Nama saya Nurul Yaman. Kamu bisa panggil saya mas Yaman”

“Saya Amel”, kataku dengan penuh malu.

“Gimana Amel, siap latihannya?? Kamu sudah mendengar semuanya kan dibalik pintu tadi.”

Aku semakin malu. Orang tuaku pun terkejut, kenapa dia bisa tahu keberadaanku yang tidak disadari mereka. “Ya, saya mau”, aku menerimanya sebagai pelatihku.

♣♣♣

 

Setiap Jum’at malam, mas Yaman datang ke rumah untuk melatihku. Dia mencari tau tentang kondisiku dan mengenalkan MP terlebih dahulu.

“Amel, sejak kapan kamu sakit??”

“Sejak aku SMP, setelah ikut lomba lari. Ketika itu, tiba-tiba dadaku sesak, jantungku berdetak kencang, tidak teratur. Aku merasa sakit sekali sampai mengira aku akan mati saat itu.” Aku menceritakan kejadian awal penyakitku. Dia pun mendengarkannya dan mencoba merasakan hal yang sama untuk lebih memahami karakterku.

“Kamu tahu nggak Merpati Putih itu apa??”

“ MP. MP itu salah satu perguruan silat nasional.”

“Merpati Putih adalah Mersudi patitising tindak pusakane titising hening, mencari tindakan yang tepat dalam keheningan. Disini kamu akan dilatih keselarasan otak, fisik dan Qolbu untuk mendapatkan keheningan sempurna, karena saat itulah kamu merasa lebih dekat dengan Allah SWT dan dirimu sendiri”. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian penjelasannya.

“Setiap niat yang kita tanamkan dalam diri kita, akan mempengaruhi sikap kita. Dalam setiap kegiatan kita fisik, psikologis dan qolbu selalu berpengaruh, karena itu adalah  tiga lapisan tubuh manusia”.

“Kenapa harus fisik, psikologis, dan qolbu kita?? Apa peran itu semua??”

“Itu karena fisik merupakan raga kita yang terlihat, semua indera kita yang memiliki kemampuan terbatas. Psikologis,  itu yang berhubungan dengan otak kita, usahakan sebelum atau saat melakukan sesuatu kamu membayangkan hasil yang inin kamu capai sesuai dengan niat kamu di awal. Terus yang terankhir Qolbu atau jantung, yang merupakan inti dari manusia. Jantung, jantung dapat memancarkan gelombang yang lebih panjang daripada otak. Misalnya ya, kita sedang bareng kayak gini, gelombang jantung kamu dan aku akan bertemu dan saling berinteraksi sehingga akan timbul gelombang yang lebih besar. Oh ya, di dalam qolbu kita juga terdapat naluri.”

“Naluri??”

“ya, naluri. Naluri dapat menunjukkan hal yang benar atau tepat, bedanya dengn otak, dia hanya menyuruh kita untuk bertindak sesuai apa yang telah kita input ke otak.”

Penjelasannya sungguh membuatku terpana. Aku baru mengerti, bahwa dalam tubuh kita terdapat banyak hal yang belum ku ketahui. Dia memberiku latihan olah nafas yang dapat menormalkan detak jantung, tapi tak bisa dipungkiri, kalau jantungku berdetak lebih cepat saat bersamanya.

Mas Yaman menyarankanku untuk mengonsumsi makanan yang mengandung vit B1 dan vit E untuk mempercepat proses penyembuhan, misalnya kuning telur, wortel, dan yang mengandung vit E: susu, daging, toge, hati, dan mentega. Aku berusaha melaksanakan apa yang dia ajarkan dan sarankan. Aku latihan olah nafas setiap pagi setelah sholat malam, karena menurutnya lebih baik olah nafas dalam tempat dan waktu yang sama dan saat itu merupakan saat yang paling nyaman menurutku. Aku juga mengonsumsi makanan yang disarankannya dan selalu memenuhi gizi dengan seimbang. Oleh karena itu, setelah lulus nanti aku ingin melanjutkan ke Ilmu Gizi IPB. Itu adalah niatku.

Selain latihan di rumah, aku juga ikut latihan di kolat SMA ku sekarang. UKT pertama begitu sulit, dan melelahkan. Ujian pertama, Ujian tulis, alhamdulillah terlewati, meskipun aku juga tidak begitu yakin dengan jawaban yang aku tulis. Ujian kedua, tata gerak, dan yang terakhir, lari. Lari adalah hal yang paling aku suka sekaligus yang membuatku trauma. Akan tetapi, Mas Yaman selau menyemangati kalau aku pasti bisa. Aku pun terus berlari dan berlari.

Tiba-tiba, dadaku terasa sesak diikat dengan kuat, oksigen dihambat masuk, jantung berdegup kencang, aliran darah mengalir deras, badan terasa melayang bebas tak terarah. Penyakitku kambuh lagi. Tak ada orang disekelilingku, aku sendirian. Pandangananku mulai kabur, tapi aku melihat seorang pangeran mendekat. Aku kuatkan pandangan ke dia. Dia seperti Sinichi Kudo yang ingin menyelamatkan Ran. Dia tahu dimana Ran sedang mengalami kesulitan. Rasa itu semakin kuat sampai tak terasa apapun.

“Amel, kamu kenapa?? Ayo bangun”

“Amel kenapa mas Yaman??” tanya Mas Joko.

“Penyakitnya kambuh lagi. Cepat bantu bawa ke aula, biar aku obati dia disana.”

Aku mendengar semuanya, aku sadar dalam kegelapan, tapi aku tak kuat menopang tubuh ini. Sekarang, aku mengerti, inilah yang dimaksud kemampuan fisik itu terbatas. Aku merasa ada gelombang energi yang masuk ke dalam tubuhku, ke aliran darahku. Udara sejuk terasa membelai wajahku. Mas Yaman telah mengalirkan energinya sehingga aku terbangun dari gelapnya malam.

 

♣♣♣

 

Tak terasa empat tahun telah berlalu. Kini aku menjadi mahasiswa tingkat akhir Ilmu Gizi, IPB. Penyakitku juga tidak pernah kambuh lagi. Jantungku sudah berdetak nomal. Kedua adikku Upin dan Ipin juga mengikuti latihan MP di kolat sekolahnya.  Merpati Putih telah banyak mengubah kehidupanku menjadi lebih baik. Keilmuannya sangat bermanfaat untuk diaplikasikan dalam kehidupan. Kedua orang tuaku sudah mulai mengayuh roda kehidupan yang baru. Mereka memintaku untuk segera menyusul mereka dengan pasangan roda yang membuat kita maju lebih cepat. Saat itulah, sekelebat bayangan Sinichi Kudo lewat dalam bayanganku.

Aku tak akan pernah bisa melupakan kenangan indah masa UKT itu. UKT dasar I menjadi UKT terindah dalam hidupku. Bayangan Mas Yaman seperti Sinichi Kudo yang mencari Ran sebagai panggilan jiwa seseorang dengan penuh harapan. Saat bersama Mas Yaman, lantunan musik romantis terasa berdengung, pancaran gelombang jiwa berinterferensi menyatu dan membesar. Khayalan, harapan, atau kenyataan belum bisa aku simpulkan.

Hari ini adalah hari dimana aku dilepas oleh Bapak semua mahasiswa IPB di GWW. Ayah dan Ibu sangat berharap, aku akan segera menemukan pasangan untuk mengayuh roda kehidupan bersama. Sama sepertiku, aku juga berharap ada seseorang yang datang dengan membawa setangkai mawar dan mengungkapkan isi hatinya di depan keluargaku untuk meminangku. Itu adalah harapan seorang gadis yang tak tahu kapan terwujud. Akhirnya proses wisuda selesai, waktunya keluar dan mendengar sorak sorai dari teman-teman Ilmu Gizi dan sahabat-sahabatku. Mendadak aku tercengang di depan pintu, seseorang telah berlutut dan membawa setangkai mawar merah.

“Amel, sudah lama aku menunggu momen ini. Selama ini, bayanganmu bukanlah hanya sekedar khayalan, itu kenyataan yang akan terwujud saat kamu meyakininya. Aku pernah bilang ke kamu, saat kamu berniat sesuatu, maka secara tidak sadar nalurimu mengarahkanmu menuju tujuanmu. Dan inilah tujuanku, meminangmu.”

Aku kehilangan kata-kata, kedua mataku terpana oleh tatapan matanya yang tajam. Tak sadar, aku meneteskan air mata kebahagiaan yang sangat mendalam. Setitik cahaya menjadi pelangi nan indah. Warna-warni kebahagiaan menyelimuti hati ini. Aku hanya bisa mengangguk dengan penuh kelembutan hati dan keikhlasan jiwa.

Semua orang berteriak, keluargaku sangat bahagia. Ucapan Selamat bergema dimana-mana. Aku merasa seperti Merpati Putih yang sedang terbang bersama pasangan mengangkasa menuju tempat terindah untuk hidup bersama selamanya.

♣♣♣

THE END

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *