Mengenal Merpati Putih yang Sarat Akan Makna

Posted by Merpati Putih on 21 January 2017

Merpati Putih merupakan salah satu seni beladiri asli Indonesia yang merupakan bagian dari budaya yang masih lestari hingga detik ini. Pencak silat Merpati Putih dikenal dengan kekhasannya yaitu teknik pernafasan atau olah nafas sehingga akan mengeluarkan tenaga dalam asli manusia, pada keadaan normal biasanya tenaga ini hanya bisa digunakan oleh manusia pada keadaan terdesak saja atau karena emosi yang melunjak sangat tinggi sehingga merangsang neuron untuk menggunakan energi cadangan dalam bentuk Andronesine Triphospate pada sel-sel tertentu sehingga menghasilkan tenaga lebih dari biasanya. Contoh ketika seseorang dikejar oleh seekor anjing maka kemampuan berlarinya (kakinya) akan meningkat ketimbang ketika dia lari dalam keadaan biasa. Dengan teknik pernafasan ini seorang pendekar Merpati Putih mampu memaksimalkan tenaga tersebut dan menggunakannya secara sadar sesuai kehendaknya.

Selain teknik pernafasan yang menjadi identitas dari perguruan silat Merpati Mutih adalah teknik vibration atau getaran yang mampu mendeteksi benda menggunakan getaran yang dihasilkan oleh otak manusia tanpa melihat atau tanpa pemanfaatan pemantulan cahaya. Selain mendeteksi bentuk dan warna dari benda sehingga kita akan mampu berjalan dengan arah yang benar dengan tanpa menggunakan mata, pada tingkat lanjut teknik getaran ini juga mampu untuk mendeteksi jenis-jenis benda yang ada di sekitar sang pengguna. Contohnya adalah dengan teknik ini pada tingkat lanjut seorang pesilat Merpati Putih mampu dengan mudah mendeteksi keberadaan bom ataupaun narkoba yang tersembunyi dan dapat juga digunakan untuk mendeteksi radiasi nuklir pada tingkat lanjut.

Selain dua hal di atas yang membuat perguruan silat Merpati Putih diminati banyak kalangan masyarakat hingga saat ini adalah filosofi yang diakandung dalam setiap gerakan dan jurus-jurus yang diajarkan. Setiap unsur dari Merpati Putih sendiri memliki makna dan pengajaran filosofi moral, ketuhanan, dan nasionalis yang kuat sehingga akan membentuk pesilat-pesilat yang selain tangguh juga berbudi luhur dan agamis. Sedikit contoh adalah dalam pelaksanaan tanding silat atau turun matras, setiap pesilat Merpati Putih pasti telah diajarkan untuk melakukan kembangan (rangkaian gerakan ketika melakukan ancang-ancang dan sekaligus mengatur pernafasan) yang sarat akan filosofi anataranya bahwa ketika apapun yang seorang pesilat lakukan (termasuk bertarung) seorang pesilat haruslah mampu mengontorl emosinya (dengan cara mengatur nafas agar lebih tenang) agar dalam segala kegiatan dan tindakan yang dilakukan adalah dengan kesadaran bukan dengan hawa nafsu yang membabibuta yang artinya seorang pesilat haruslah memiliki kontrol penuh atas dirinya.

Contoh lainnya adalah dalam posisi kuda-kuda. Dalam posisi kuda-kuda keadaan pesilat yang diinginkan adalah kokoh dan kuat, siap dan sigap sehingga ketika menerima serangan mampu memberikan refleks terbaik dan tidak tumbang dengan mudah. Gerakan inipun mengandung filosofi bahwa seorang pesilat (pesilat Merpati Putih khusunya) harus memiliki tekad yang kuat dan kokoh sehingga tidak tergoyangkan dan tidak akan terombang-ambing dalam peleburan budaya dunia saat ini.

Karena dalam setiap gerakan dan jurus yang ada dalam perguruan silat Merpati Putih memiliki filosofi masing-masing sehingga out put yang diharapkan dari setiap pesilat yang mempelajari aliran Merpati Putih akan memiliki budi yang luhur dan sikap yang santun. Selain dalam setiap gerakannya, filosofi yang mengatur prilaku baik pesilat Merpati Putih ini pun dikukuhkan dalam nama Merpati Putih itu sendiri dimana Merpati Putih ialah kepanjangan dari Mersudi Patitising Tindak Pusakane Titising Hening yang dalam bahasa Indonesia berarti “Mencari sampai mendapat Kebenaran dengan Ketenangan”. Yang memiliki makna bahwa setiap pesilat Merpati Putih mampu menyelaraskan hati dan pikirannya dalam setiap tidakan yang diambilnya.

Selain dari gerakan dan nama perguruan yang sarat akan makna, ajaran dari Merpati Putih inipun semakin diperkokoh dengan adanya sebuah moto “Sumbangsihku tak berharga namun keikhlasanku nyata” yang mengisyaratkan bahwa setiap pesilat Merpati Putih bukan hanya dibentuk menjadi orang yang mampu membela diri dengan baik secara fisik namun juga mampu untuk memberikan bakti (sumbangsih) dengan tanpa mengharapkan imbalan dan semata-mata karena ikhlas mengabdikan diri. Ajaran batiniah inipun tertuang dalam amanat sang guru yang setiap pesilat Merpati Putih berkeharusan untuk mengembannya yaitu Memiliki rasa jujur dan welas asih, Percaya pada diri sendiri, Keserasian dan keselarasan dalam penampilan sehari-hari, Menghayati dan mengamalkan sikap itu agar menimbulkan Ketaqwaan kepada Tuhan.

Dengan banyaknya pengajaran moral yang ada di dalam perguruan silat Merpati Putih ini, sudah selayaknya apabila Merpati Putih termasuk dalam warisan budaya nenek moyang yang sangat berharga. Karenanya sudah sepatutnya para pemuda yang merupakan bagian dari masa depan bangsa, manusia-manusia yang akan memikul estapet kejayaan bangsa Indonesia haruslah tangguh, kuat, dan berbudi luhur sesuai dengan apa yang telah para pendahulu kita wariskan yang salah satunya ada dalam perguruan Pencak Silat Merpati Putih.

Asa Purqon,
Mahasiswa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *